Kemajuan kualitas pendidikan secara optimal guna mengimbangi kemajuan ilmu

Kemajuan
teknologi yang sangat cepat mengakibatkan suatu perubahan di segala bidang kehidupan. Guna memenuhi kebutuhan akan sumber
daya manusia yang tinggi di Indonesia,
dengan tujuan agar dapat bersaing di masa depan, maka jalur pendidikan dipandang sebagai wadah
yang dapat memenuhinya. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
lembaga pendidikan dituntut untuk berperan aktif dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pendidikan secara optimal guna mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta meningkatkan daya saing lulusan guna menghadapi ketatnya
persaingan dan tantangan dunia kerja. Oleh karena itu, inovasi di bidang pendidikan sangat
diperlukan agar kualitas pendidikan terus
meningkat
sehingga memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Usaha
mencapai keberhasilan pembangunan dalam bidang pendidikan bukan hanya merupakan
tanggung jawab dari pemerintah semata, melainkan juga seluruh masyarakat
termasuk di dalamnya adalah guru. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan
adalah dengan meningkatkan pendidikan
matematika. Matematika merupakan ilmu universal
yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam
berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di
bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa
depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Permendiknas 22, 2006).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta
didik mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi
tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh,
mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup padakeadaan yang
selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif (Fitriana, 2010; Yuwono, 2010).

Masalah yang
dihadapi dalam pembelajaran matematika di Indonesia adalah penguasaan
mata pelajaran matematika yang masih sangat kurang. Rendahnya penguasaan
matematika oleh para siswa Indonesia tercermin dalam rendahnya prestasi
siswa Indonesia baik di tingkat internasional maupul di tingkat nasional. Prestasi
siswa Indonesia di tingkat internasional masih tertinggal di bandingkan dengan
negara-negara lain.

Hasil penilaian internasional tentang pengetahuan matematika di berbagai belahan dunia menempatkan Indonesia pada
level dibawah rata-rata. Seperti pada Trends
in International Mathematics and Science Study/TIMSS (Kecenderungan
Pembelajaran Matematika dan Sains Internasional) tahun 2011 tentang pembelajaran
matematika di kelas 8 menempatkan Indonesia pada skor 386, hasil tersebut
menyebabkan peringkat Indonesia turun 2 tingkat dari peringkat 36 (dengan skor
397) menjadi peringkat 38. Demikian juga pada Programme for
International Student Assessment/PISA (Program
Penilaian Pelajar Internasional) tahun 2015, Indonesia ditempatkan pada skor 386
untuk performa matematika yaitu pada peringkat 62.

Dalam Principles
and Standards for School Mathematics (Prinsip dan
standar untuk matematika sekolah) terdapat 5 standar proses (Process
Standards) atau kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam memahami
matematika antara lain Problem Solving (Pemecahan masalah), Reasoning and Proof (Penalaran dan Pembuktian), Communication (Komunikasi), Connections (Koneksi) dan Representation (Representasi) (NCTM, 2000).

Kemudian dalam Permendiknas No. 22 tahun
2006, Mata pelajaran matematika bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.       
Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah.

2.       
Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.

3.       
Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4.       
Mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas
keadaan atau masalah.

5.       
Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dari uraian Permendiknas No. 22 tahun 2006 serta Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) tersebut menyatakan bahwa
salah satu kemampuan yang harus siswa kuasai dalam memahami matematika adalah
kemampuan penalaran dan pembuktian (Reasoning
and Proof), Penalaran matematis dan pembuktian menawarkan
cara ampuh untuk mengembangkan dan mengekspresikan wawasan tentang berbagai
fenomena. Orang yang bernalar dan berpikir
analitis cenderung memperhatikan pola, struktur, atau keteraturan dalam situasi
dunia nyata dan matematis (NCTM, 2000).

Kemampuan penalaran matematis tidak lepas
dari kemampuan pembuktian (Proof), Reid & Knipping, (2010)
mengatakan bahwa pembuktian
sangat penting bagi matematika, dan akibatnya pendidik matematika telah
mencurahkan usaha penelitian substansial untuk memahami bagaimana siswa
terlibat dalam bukti dan pembuktian. Yackel & Hanna (2003 dalam Komatsu,
2010) juga menyatakan bahwa “Proofs and proving are at the heart of
mathematics and should be one of the core elements of pupils’ mathematical
experience from primary school”.

Bell (1976); de
Villiers (1990, 1999); Hanna and
Jahnke (1996) (dalam Hanna, 2000) mengungkapkan beberapa fungsi dari pembuktian
matematis (mathematical proof) antara lain:

1.       
Verification (Verifikasi: menyangkut
kebenaran pernyataan)

2.       
Explanation (Penjelasan:
memberikan wawasan tentang mengapa itu benar)

3.       
Systematisation (Sistematisasi:
pengorganisasian berbagai hasil menjadi sistem deduktif aksioma, konsep utama
dan teorema)

4.       
Discovery  (Penemuan: penemuan atau penciptaan
hasil baru)

5.       
Communication  (Komunikasi: transmisi pengetahuan matematis)

6.       
Construction of
an empirical theory (Konstruksi teori empiris)

7.       
Exploration of
the meaning of a definition or the consequences of an assumption (Eksplorasi
makna definisi atau konsekuensi asumsi)

8.       
Incorporation of a
well-known fact into a new framework and thus viewing
it from a fresh perspective (Penggabungan
fakta yang terkenal ke dalam kerangka baru dan dengan demikian melihatnya dari
perspektif baru)

Beberapa penelitian
mengenai pembuktian dalam matematika di tingkat Sekolah Dasar (Komatsu, 2010),
Sekolah Menengah (Balacheff, 1988; Edwards, 1998) dan mahasiswa sarjana (Renkl,
A., 2002; Hodds, M., Alcock, L., & Inglis, M., 2014) telah dilakukan untuk
mengetahui perilaku menulis bukti (Proof-Writing Behaviors) siswa
dan/atau mahasiswa dalam mengkonstruksi sebuah pembuktian. Seperti yang dilakukan oleh Edwards (1998)
melalui jurnalnya yang berjudul Odds
and Evens: Mathematical Reasoning and Informal Proof among High School Students yaitu sebuah studi yang dilakukan pada
siswa kelas 10 SMA, dalam studi tersebut mengungkapkan bahwa siswa memulai
sebuah argumen pembuktian (dalam hal ini pembuktian bilangan ganjil dan genap)
dengan penalaran induktif dan empiris dengan memperhatikan setiap kasus-kasus
yang ada yang kemudian digeneralisasikan dalam argumen matematis dengan
menggunakan pendekatan visual (Garis Bilangan). Dalam
pengertian ini, walaupun argumen visualnya sama sekali tidak memiliki bukti
matematis penuh atau formal, itu adalah semacam “bukti
yang menjelaskan” bagi siswa yang menciptakannya (Edwards, 1998).

Dari studi
tersebut dapat penulis simpulkan bahwa kemampuan pembuktian siswa masih perlu
ditingkatkan sehingga siswa dapat memahami pembuktian itu sendiri serta dapat
mengkonstruksi (menuliskan) pembuktian secara formal. Fawcett (dalam Susanto,
2014) berpendapat bahwa belajar pembuktian matematika (mathematical proof)
dapat meningkatkan daya kritis dan reflektif.
Menyikapi rendahnya tingkat kemampuan pembuktian tersebut terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhinya. Handayani
(2010) mengungkapkan bahwa faktor yang mempengaruhi dari dalam
diri siswa antara lain: motivasi, minat, intelegensi, kemandirian belajar,
kedisiplinan belajar, kreativitas belajar, gaya belajar siswa dan sebagainya.

Salah satu faktor antara lain yaitu tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated Learning) akan
menentukan keberhasilan studi siswa dalam mengkonstruksi pembuktian matematis. Kerlin (1992 dalam Sumarmo, 2012) mengemukakan bahwa kemandirian
belajar merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap
proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik, Handayani
(2010) mengungkapkan bahwa kebanyakan dari
siswa belum mampu secara mandiri untuk menemukan, mengenal, memerinci hal-hal
yang berlawanan dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari masalahnya, sebab
siswa awalnya hanya menurut yang disajikan oleh guru atau masih bergantung pada
guru.

Keberhasilan
mengkonstruksi pembuktian tidak boleh hanya mengandalkan kegiatan tatap muka
dan tugas terstruktur yang diberikan oleh guru, akan tetapi terletak pada
kemandirian belajar. Untuk menyerap dan menghayati pelajaran jelas telah
diperlukan sikap dan kesediaan untuk mandiri, sehingga sikap kemandirian
belajar menjadi faktor penentu apakah siswa mampu menghadapi tantangan atau
tidak.

Selain tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated Learning),
sebagai pengajar kita juga perlu menerapkan strategi yang efektif terkait
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pembuktian siswa, salah satu
alternatif antara lain dengan menerapkan strategi Self-Explanations Training
(Pelatihan penjelasan diri). Roy,
M., & Chi, M. T. (2005) mengungkapkan bahwa “Self-explanation is a domain
general constructive activity that engages students in active learning and
insures that learners attended to the material in a meaningful way while
effectively monitoring their evolving understanding. Several key cognitive
mechanisms are involved in this process including generating inferences to fill
in missing information, integrating information within the study materials,
integrating new information with prior knowledge, monitoring and repairing
faulty knowledge” (Self-Explanations
adalah domain dari aktivitas
konstruktif umum yang melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif dan memastikan
bahwa peserta didik hadir dalam materi dengan cara yang berarti sambil memantau
secara efektif pemahaman mereka yang terus berkembang. Beberapa mekanisme
kognitif utama yang terlibat dalam proses ini mencakup menghasilkan kesimpulan
untuk mengisi informasi yang hilang, mengintegrasikan informasi di dalam materi
studi, mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, memantau
dan memperbaiki kesalahan pengetahuan). Ungkapan tersebut sejalan dengan teori belajar
konstruktivis yang dikemukakan oleh Jean Piaget (1967 dalam Bodner, 1986),
menurutnya “knowledge is constructed as the learner strives to organize his
or her experiences in terms of preexisting mental structures or schemes” (pengetahuan dibangun saat pelajar berusaha untuk mengatur
pengalamannya berdasarkan struktur mental atau skema yang sudah ada sebelumnya).

Telah banyak penelitian mengenai strategi Self-Explanation Training
seperti Hodds, M., Alcock, L., & Inglis, M. (2014) yang mengungkapkan bahwa strategi
pembelajaran Self-Explanation Training terbukti cukup efektif dan dapat
memfasilitasi pembelajaran pemahaman pembuktian. Peneliti lain seperti Wong, R. M., Lawson, M. J., & Keeves, J. (2002) juga menerapkan Self-Explanation
Training untuk mengukur tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis (Mathematical
Problem Solving) pada siswa sekolah menengah, Chi, de Leeuw, Chiu, dan LaVancher (1994 dalam Hodds et.al, 2014) juga menemukan bahwa siswa kelas delapan yang menerima Self-Explanation Training dan kemudian membaca teks tentang sistem peredaran darah secara signifikan dapat memahami lebih
banyak daripada siswa yang hanya diminta untuk membaca teks tersebut dua
kali. Hasil serupa juga telah ditemukan di domain konten lainnya seperti
sejarah (Leinhardt, 1993), pemrograman, dan multimedia (Roy & Chi, 2005).Sehingga
dalam hal ini peneliti akan menggunakan strategi Self-Explanation Training ini
dengan terlebih dahulu meninjau tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated
Learning) untuk mengukur tingkat efektifitasnya dalam memfasilitasi tidak
hanya pemahaman pembuktian namun juga diharapkan dapat memfasilitasi siswa dalam
mengkonstruksi pembuktian matematis.

Kemajuan
teknologi yang sangat cepat mengakibatkan suatu perubahan di segala bidang kehidupan. Guna memenuhi kebutuhan akan sumber
daya manusia yang tinggi di Indonesia,
dengan tujuan agar dapat bersaing di masa depan, maka jalur pendidikan dipandang sebagai wadah
yang dapat memenuhinya. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
lembaga pendidikan dituntut untuk berperan aktif dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pendidikan secara optimal guna mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta meningkatkan daya saing lulusan guna menghadapi ketatnya
persaingan dan tantangan dunia kerja. Oleh karena itu, inovasi di bidang pendidikan sangat
diperlukan agar kualitas pendidikan terus
meningkat
sehingga memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Usaha
mencapai keberhasilan pembangunan dalam bidang pendidikan bukan hanya merupakan
tanggung jawab dari pemerintah semata, melainkan juga seluruh masyarakat
termasuk di dalamnya adalah guru. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan
adalah dengan meningkatkan pendidikan
matematika. Matematika merupakan ilmu universal
yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam
berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di
bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa
depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Permendiknas 22, 2006).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta
didik mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi
tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh,
mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup padakeadaan yang
selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif (Fitriana, 2010; Yuwono, 2010).

Masalah yang
dihadapi dalam pembelajaran matematika di Indonesia adalah penguasaan
mata pelajaran matematika yang masih sangat kurang. Rendahnya penguasaan
matematika oleh para siswa Indonesia tercermin dalam rendahnya prestasi
siswa Indonesia baik di tingkat internasional maupul di tingkat nasional. Prestasi
siswa Indonesia di tingkat internasional masih tertinggal di bandingkan dengan
negara-negara lain.

Hasil penilaian internasional tentang pengetahuan matematika di berbagai belahan dunia menempatkan Indonesia pada
level dibawah rata-rata. Seperti pada Trends
in International Mathematics and Science Study/TIMSS (Kecenderungan
Pembelajaran Matematika dan Sains Internasional) tahun 2011 tentang pembelajaran
matematika di kelas 8 menempatkan Indonesia pada skor 386, hasil tersebut
menyebabkan peringkat Indonesia turun 2 tingkat dari peringkat 36 (dengan skor
397) menjadi peringkat 38. Demikian juga pada Programme for
International Student Assessment/PISA (Program
Penilaian Pelajar Internasional) tahun 2015, Indonesia ditempatkan pada skor 386
untuk performa matematika yaitu pada peringkat 62.

Dalam Principles
and Standards for School Mathematics (Prinsip dan
standar untuk matematika sekolah) terdapat 5 standar proses (Process
Standards) atau kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam memahami
matematika antara lain Problem Solving (Pemecahan masalah), Reasoning and Proof (Penalaran dan Pembuktian), Communication (Komunikasi), Connections (Koneksi) dan Representation (Representasi) (NCTM, 2000).

Kemudian dalam Permendiknas No. 22 tahun
2006, Mata pelajaran matematika bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.       
Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah.

2.       
Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.

3.       
Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4.       
Mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas
keadaan atau masalah.

5.       
Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dari uraian Permendiknas No. 22 tahun 2006 serta Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) tersebut menyatakan bahwa
salah satu kemampuan yang harus siswa kuasai dalam memahami matematika adalah
kemampuan penalaran dan pembuktian (Reasoning
and Proof), Penalaran matematis dan pembuktian menawarkan
cara ampuh untuk mengembangkan dan mengekspresikan wawasan tentang berbagai
fenomena. Orang yang bernalar dan berpikir
analitis cenderung memperhatikan pola, struktur, atau keteraturan dalam situasi
dunia nyata dan matematis (NCTM, 2000).

Kemampuan penalaran matematis tidak lepas
dari kemampuan pembuktian (Proof), Reid & Knipping, (2010)
mengatakan bahwa pembuktian
sangat penting bagi matematika, dan akibatnya pendidik matematika telah
mencurahkan usaha penelitian substansial untuk memahami bagaimana siswa
terlibat dalam bukti dan pembuktian. Yackel & Hanna (2003 dalam Komatsu,
2010) juga menyatakan bahwa “Proofs and proving are at the heart of
mathematics and should be one of the core elements of pupils’ mathematical
experience from primary school”.

Bell (1976); de
Villiers (1990, 1999); Hanna and
Jahnke (1996) (dalam Hanna, 2000) mengungkapkan beberapa fungsi dari pembuktian
matematis (mathematical proof) antara lain:

1.       
Verification (Verifikasi: menyangkut
kebenaran pernyataan)

2.       
Explanation (Penjelasan:
memberikan wawasan tentang mengapa itu benar)

3.       
Systematisation (Sistematisasi:
pengorganisasian berbagai hasil menjadi sistem deduktif aksioma, konsep utama
dan teorema)

4.       
Discovery  (Penemuan: penemuan atau penciptaan
hasil baru)

5.       
Communication  (Komunikasi: transmisi pengetahuan matematis)

6.       
Construction of
an empirical theory (Konstruksi teori empiris)

7.       
Exploration of
the meaning of a definition or the consequences of an assumption (Eksplorasi
makna definisi atau konsekuensi asumsi)

8.       
Incorporation of a
well-known fact into a new framework and thus viewing
it from a fresh perspective (Penggabungan
fakta yang terkenal ke dalam kerangka baru dan dengan demikian melihatnya dari
perspektif baru)

Beberapa penelitian
mengenai pembuktian dalam matematika di tingkat Sekolah Dasar (Komatsu, 2010),
Sekolah Menengah (Balacheff, 1988; Edwards, 1998) dan mahasiswa sarjana (Renkl,
A., 2002; Hodds, M., Alcock, L., & Inglis, M., 2014) telah dilakukan untuk
mengetahui perilaku menulis bukti (Proof-Writing Behaviors) siswa
dan/atau mahasiswa dalam mengkonstruksi sebuah pembuktian. Seperti yang dilakukan oleh Edwards (1998)
melalui jurnalnya yang berjudul Odds
and Evens: Mathematical Reasoning and Informal Proof among High School Students yaitu sebuah studi yang dilakukan pada
siswa kelas 10 SMA, dalam studi tersebut mengungkapkan bahwa siswa memulai
sebuah argumen pembuktian (dalam hal ini pembuktian bilangan ganjil dan genap)
dengan penalaran induktif dan empiris dengan memperhatikan setiap kasus-kasus
yang ada yang kemudian digeneralisasikan dalam argumen matematis dengan
menggunakan pendekatan visual (Garis Bilangan). Dalam
pengertian ini, walaupun argumen visualnya sama sekali tidak memiliki bukti
matematis penuh atau formal, itu adalah semacam “bukti
yang menjelaskan” bagi siswa yang menciptakannya (Edwards, 1998).

Dari studi
tersebut dapat penulis simpulkan bahwa kemampuan pembuktian siswa masih perlu
ditingkatkan sehingga siswa dapat memahami pembuktian itu sendiri serta dapat
mengkonstruksi (menuliskan) pembuktian secara formal. Fawcett (dalam Susanto,
2014) berpendapat bahwa belajar pembuktian matematika (mathematical proof)
dapat meningkatkan daya kritis dan reflektif.
Menyikapi rendahnya tingkat kemampuan pembuktian tersebut terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhinya. Handayani
(2010) mengungkapkan bahwa faktor yang mempengaruhi dari dalam
diri siswa antara lain: motivasi, minat, intelegensi, kemandirian belajar,
kedisiplinan belajar, kreativitas belajar, gaya belajar siswa dan sebagainya.

Salah satu faktor antara lain yaitu tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated Learning) akan
menentukan keberhasilan studi siswa dalam mengkonstruksi pembuktian matematis. Kerlin (1992 dalam Sumarmo, 2012) mengemukakan bahwa kemandirian
belajar merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap
proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik, Handayani
(2010) mengungkapkan bahwa kebanyakan dari
siswa belum mampu secara mandiri untuk menemukan, mengenal, memerinci hal-hal
yang berlawanan dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari masalahnya, sebab
siswa awalnya hanya menurut yang disajikan oleh guru atau masih bergantung pada
guru.

Keberhasilan
mengkonstruksi pembuktian tidak boleh hanya mengandalkan kegiatan tatap muka
dan tugas terstruktur yang diberikan oleh guru, akan tetapi terletak pada
kemandirian belajar. Untuk menyerap dan menghayati pelajaran jelas telah
diperlukan sikap dan kesediaan untuk mandiri, sehingga sikap kemandirian
belajar menjadi faktor penentu apakah siswa mampu menghadapi tantangan atau
tidak.

Selain tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated Learning),
sebagai pengajar kita juga perlu menerapkan strategi yang efektif terkait
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pembuktian siswa, salah satu
alternatif antara lain dengan menerapkan strategi Self-Explanations Training
(Pelatihan penjelasan diri). Roy,
M., & Chi, M. T. (2005) mengungkapkan bahwa “Self-explanation is a domain
general constructive activity that engages students in active learning and
insures that learners attended to the material in a meaningful way while
effectively monitoring their evolving understanding. Several key cognitive
mechanisms are involved in this process including generating inferences to fill
in missing information, integrating information within the study materials,
integrating new information with prior knowledge, monitoring and repairing
faulty knowledge” (Self-Explanations
adalah domain dari aktivitas
konstruktif umum yang melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif dan memastikan
bahwa peserta didik hadir dalam materi dengan cara yang berarti sambil memantau
secara efektif pemahaman mereka yang terus berkembang. Beberapa mekanisme
kognitif utama yang terlibat dalam proses ini mencakup menghasilkan kesimpulan
untuk mengisi informasi yang hilang, mengintegrasikan informasi di dalam materi
studi, mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, memantau
dan memperbaiki kesalahan pengetahuan). Ungkapan tersebut sejalan dengan teori belajar
konstruktivis yang dikemukakan oleh Jean Piaget (1967 dalam Bodner, 1986),
menurutnya “knowledge is constructed as the learner strives to organize his
or her experiences in terms of preexisting mental structures or schemes” (pengetahuan dibangun saat pelajar berusaha untuk mengatur
pengalamannya berdasarkan struktur mental atau skema yang sudah ada sebelumnya).

Telah banyak penelitian mengenai strategi Self-Explanation Training
seperti Hodds, M., Alcock, L., & Inglis, M. (2014) yang mengungkapkan bahwa strategi
pembelajaran Self-Explanation Training terbukti cukup efektif dan dapat
memfasilitasi pembelajaran pemahaman pembuktian. Peneliti lain seperti Wong, R. M., Lawson, M. J., & Keeves, J. (2002) juga menerapkan Self-Explanation
Training untuk mengukur tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis (Mathematical
Problem Solving) pada siswa sekolah menengah, Chi, de Leeuw, Chiu, dan LaVancher (1994 dalam Hodds et.al, 2014) juga menemukan bahwa siswa kelas delapan yang menerima Self-Explanation Training dan kemudian membaca teks tentang sistem peredaran darah secara signifikan dapat memahami lebih
banyak daripada siswa yang hanya diminta untuk membaca teks tersebut dua
kali. Hasil serupa juga telah ditemukan di domain konten lainnya seperti
sejarah (Leinhardt, 1993), pemrograman, dan multimedia (Roy & Chi, 2005).Sehingga
dalam hal ini peneliti akan menggunakan strategi Self-Explanation Training ini
dengan terlebih dahulu meninjau tingkat kemandirian belajar siswa (Self-Regulated
Learning) untuk mengukur tingkat efektifitasnya dalam memfasilitasi tidak
hanya pemahaman pembuktian namun juga diharapkan dapat memfasilitasi siswa dalam
mengkonstruksi pembuktian matematis.

x

Hi!
I'm Elaine!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out