Keamanan menghadapi banyak sektor lain selain isu konvensional, contohnya

Keamanan Indonesia dalam periode
2002-2011 cukup mengalami beberapa ancaman di beberapa sektor, contohnya
seperti dalam sektor terorisme dan isu kelompok separatis.

Pada tahun 2002, seperti yang
tertulis dalam jurnal yang ditulis Brad West yang berjudul The 2002 Bali Bombing, National
Heroic Archetypes and The Counter-Narrative of Cosmopolitan Nationalism memberi penjelasan keadaan Indonesia
setelah tertimpa peristiwa serangan bom Bali I yang terjadi pada 2002,
peristiwa tersebut menewaskan 202 orang yang mayoritas korbannya merupakan
turis dari negara-negara luar seperti Australia. Keadaan tersebut mempengaruhi
kerja sama keamanan antara Indonesia dan Australia untuk menyelesaikan ancaman
keamanan tersebut.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Seperti yang tertulis di dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2008,
mengenai sektor isu konvensional sejak tahun 2003, Indonesia cukup sedikit
dalam menghadapi isu konvensional atau ancaman invasi dari negara lain.
Lingkungan strategis Indonesia selama 2003 dianggap belum terlalu banyak menghadapi
ancaman dalam isu konvensional. Buku putih pertahanan juga menuliskan keamanan
Indonesia menghadapi banyak sektor lain selain isu konvensional, contohnya
seperti isu terorisme, isu senjata pemusnah masal, keamanan lintas negara,
dampak pemanasan global, serta bencana alam. Isu keamanan yang juga menjadi
fokus Indonesia pada periode ini adalah permasalahan di semenanjung Korea,
konflik Lebanon-Israel, konflik Israel-Palestina, dan juga konflik di laut Cina
Selatan. Isu separatis, perdagangan senjata, perompakan juga menjadi fokus
keamanan Indonesia. Buku putih pertahanan menyatakan bahwa konflik-konflik di
atas dapat menjadi fokus Indonesia, karena Indonesia dianggap dapat terkena
dampak dari konflik-konflik di atas.

Indonesia juga mengalami banyak
ancaman di sektor terorisme, sejak 2002 bom Bali I terjadi pula beberapa
ancaman teror lain seperti bom di Hotel JW Marriot pada tahun 2003, bom di
Kedutaan Australia pada tahun 2004 dan juga bom Bali II pada tahun 2005. Bagi
Indonesia ancaman keamanan di sektor terorisme merupakan ancaman berat bagi
keamanan Indonesia pada tahun-tahun tersebut karena dapat mengancam sektor
domestik maupun internasional. Sejak terjadinya kejadian-kejadian terorisme
tersebut, Indonesia melakukan pengingkatan untuk melakukan kerja sama
kontra-terorisme dengan negara-negara lain.

Isu lain yang menjadi keamanan
Indonesia adalah gerakan separatisme dan juga bencana alam. Seperti yang ditulis
di dalam buku Rebellion and Reform in Indonesia karya Michelle Ann Miller,
Aceh menghadapi bencana tsunami dan juga gerakan separatis yang ingin
memerdekakan dirinya yang bernama GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Hal ini menjadi
masalah yang serius untuk Indonesia karena pada masa pemerintahan presiden
megawati soekarno putri, Indonesia sampai menurunkan tindakan militernya untuk
mengatasi gerakan separatis ini, hal ini dilakukan karena gerakan separatis GAM
melakukan kekerasan terhadap masyarakat Aceh sekitar seperti penembakan dan
juga peledakan eksplosif, hal ini dianggap mengancam stabilitas keamanan negara
karena mengambil pengalaman pada kasus timor-timor.

Keamanan Indonesia dalam periode
2002-2011 cukup mengalami beberapa ancaman di beberapa sektor, contohnya
seperti dalam sektor terorisme dan isu kelompok separatis.

Pada tahun 2002, seperti yang
tertulis dalam jurnal yang ditulis Brad West yang berjudul The 2002 Bali Bombing, National
Heroic Archetypes and The Counter-Narrative of Cosmopolitan Nationalism memberi penjelasan keadaan Indonesia
setelah tertimpa peristiwa serangan bom Bali I yang terjadi pada 2002,
peristiwa tersebut menewaskan 202 orang yang mayoritas korbannya merupakan
turis dari negara-negara luar seperti Australia. Keadaan tersebut mempengaruhi
kerja sama keamanan antara Indonesia dan Australia untuk menyelesaikan ancaman
keamanan tersebut.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Seperti yang tertulis di dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2008,
mengenai sektor isu konvensional sejak tahun 2003, Indonesia cukup sedikit
dalam menghadapi isu konvensional atau ancaman invasi dari negara lain.
Lingkungan strategis Indonesia selama 2003 dianggap belum terlalu banyak menghadapi
ancaman dalam isu konvensional. Buku putih pertahanan juga menuliskan keamanan
Indonesia menghadapi banyak sektor lain selain isu konvensional, contohnya
seperti isu terorisme, isu senjata pemusnah masal, keamanan lintas negara,
dampak pemanasan global, serta bencana alam. Isu keamanan yang juga menjadi
fokus Indonesia pada periode ini adalah permasalahan di semenanjung Korea,
konflik Lebanon-Israel, konflik Israel-Palestina, dan juga konflik di laut Cina
Selatan. Isu separatis, perdagangan senjata, perompakan juga menjadi fokus
keamanan Indonesia. Buku putih pertahanan menyatakan bahwa konflik-konflik di
atas dapat menjadi fokus Indonesia, karena Indonesia dianggap dapat terkena
dampak dari konflik-konflik di atas.

Indonesia juga mengalami banyak
ancaman di sektor terorisme, sejak 2002 bom Bali I terjadi pula beberapa
ancaman teror lain seperti bom di Hotel JW Marriot pada tahun 2003, bom di
Kedutaan Australia pada tahun 2004 dan juga bom Bali II pada tahun 2005. Bagi
Indonesia ancaman keamanan di sektor terorisme merupakan ancaman berat bagi
keamanan Indonesia pada tahun-tahun tersebut karena dapat mengancam sektor
domestik maupun internasional. Sejak terjadinya kejadian-kejadian terorisme
tersebut, Indonesia melakukan pengingkatan untuk melakukan kerja sama
kontra-terorisme dengan negara-negara lain.

Isu lain yang menjadi keamanan
Indonesia adalah gerakan separatisme dan juga bencana alam. Seperti yang ditulis
di dalam buku Rebellion and Reform in Indonesia karya Michelle Ann Miller,
Aceh menghadapi bencana tsunami dan juga gerakan separatis yang ingin
memerdekakan dirinya yang bernama GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Hal ini menjadi
masalah yang serius untuk Indonesia karena pada masa pemerintahan presiden
megawati soekarno putri, Indonesia sampai menurunkan tindakan militernya untuk
mengatasi gerakan separatis ini, hal ini dilakukan karena gerakan separatis GAM
melakukan kekerasan terhadap masyarakat Aceh sekitar seperti penembakan dan
juga peledakan eksplosif, hal ini dianggap mengancam stabilitas keamanan negara
karena mengambil pengalaman pada kasus timor-timor.

x

Hi!
I'm Elaine!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out