Fisika belajar. Media pembelajaran adalah teknologi pembawa

Fisika merupakan salah satu pelajaran mengajak peserta didik
untuk memahami sebuah permasalahan dengan sekedar menghafal rumus. Konsep yang
dimunculkan sebuah fenomena fisis yang dipelajari peserta didik  dapat diaplikasikan baik secara konsep maupun
praktis. Di samping itu pula peserta didik juga dituntut untuk paham secara
teoritis.

Seluruh
kompetensi dasar (KD) pada pelajaran Fisika, menuntut seorang guru untuk bisa
mengembangkan media pembelajaran yang mampu menarik peserta didik bersemangat
untuk belajar. Media pembelajaran adalah teknologi
pembawa pesan yang mampu diaplikasikan sebagai keperluan pembelajaran, selain
itu merupakan sarana fisik untuk menyampaikan materi pembelajaran, serta
berfungsi juga untuk sarana komunikasi dalam bentuk audio maupun visual, juga
dalam bentuk perangkat lunak (Rusman, 2012).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Keterbatasan
sarana dan prasarana baik di laboraturium maupun sarana ICT (Information, Communication, and Technology)
tidak harus membuat guru menyerah untuk mengembangkan media belajar. Yang menjadi
daya tarik peserta didik dalam pelajaran Fisika adalah banyaknya percobaan,
baik yang dilakukan di laboraturium maupun di kelas. Permasalahan yang timbul,
karena tidak semua kegiatan dalam setiap KD belum memiliki sarana media belajar
yang memadai bahkan tidak lengkap, sehingga orientasi terhadap pembelajaran
Fisika yang hanya pada mengerjakan soal dengan hanya mengaplikasikan rumus
saja.

Seperti halnya
materi kinematika gerak lurus pada subbab Gerak Lurus Beraturan (GLB), untuk
mempelajari GLB pada umumnya menggunakan seperangkat kinematika dengan
menggunakan ticker timer, beban dan
kertas untuk mendeteksi titik dan menentukan fenomena tersebut merupakan gerak
lurus beraturan (GLB) atau gerak lurus berubah beraturan. Selain itu, alat-alat
peraga cukup dibilang mahal sehingga keterbatasan alat peraga dapat diatasi
dengan membuat bahan percobaan dengan membawa peserta didik ke materi Fisika
yang lebih aplikatif serta menyediakan materi ajar yang lebih kompleks dan memberikan
kesempatan peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya menuju High Order Thinking Skill (HOTS).

Untuk meningkatkan aktivitas
dan memaksimalkan pencapaian hasil belajar fisika siswa, seharusnya guru
memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran.
Menurut Indrawati (2011:1.6), model pembelajaran berfungsi untuk membantu dan
membimbing guru untuk memilih komponen proses dalam pembelajaran teknik,
strategi, dan metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Salah satu alternatif solusi dalam proses pembelajaran yang diharapkan mampu
mengarahkan pada siswa yang aktif sehingga mampu mempengaruhi aktivitas siswa,
hasil belajar dan retensi hasil belajar siswa terhadap pembelajaran fisika
adalah model pembelajaran belajar penemuan (discovery learning).

Menurut Winataputra (2007:3.19), discovery
learning terdiri atas enam tahap yaitu: (1) stimulus (pemberian
perangsang/stimuli), (2) problem statement (mengidentifikasi masalah),
(3) data collection (pengumpulan data), (4) data processing (pengolahan
data), (5) verifikasi, dan (6) generalisasi. Belajar penemuan menekankan pada
berfikir tingkat tinggi, hal ini merupakan salah satu kemampuan yang
dikembangkan ketika mempelajari fisika.

Fisika merupakan salah satu pelajaran mengajak peserta didik
untuk memahami sebuah permasalahan dengan sekedar menghafal rumus. Konsep yang
dimunculkan sebuah fenomena fisis yang dipelajari peserta didik  dapat diaplikasikan baik secara konsep maupun
praktis. Di samping itu pula peserta didik juga dituntut untuk paham secara
teoritis.

Seluruh
kompetensi dasar (KD) pada pelajaran Fisika, menuntut seorang guru untuk bisa
mengembangkan media pembelajaran yang mampu menarik peserta didik bersemangat
untuk belajar. Media pembelajaran adalah teknologi
pembawa pesan yang mampu diaplikasikan sebagai keperluan pembelajaran, selain
itu merupakan sarana fisik untuk menyampaikan materi pembelajaran, serta
berfungsi juga untuk sarana komunikasi dalam bentuk audio maupun visual, juga
dalam bentuk perangkat lunak (Rusman, 2012).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Keterbatasan
sarana dan prasarana baik di laboraturium maupun sarana ICT (Information, Communication, and Technology)
tidak harus membuat guru menyerah untuk mengembangkan media belajar. Yang menjadi
daya tarik peserta didik dalam pelajaran Fisika adalah banyaknya percobaan,
baik yang dilakukan di laboraturium maupun di kelas. Permasalahan yang timbul,
karena tidak semua kegiatan dalam setiap KD belum memiliki sarana media belajar
yang memadai bahkan tidak lengkap, sehingga orientasi terhadap pembelajaran
Fisika yang hanya pada mengerjakan soal dengan hanya mengaplikasikan rumus
saja.

Seperti halnya
materi kinematika gerak lurus pada subbab Gerak Lurus Beraturan (GLB), untuk
mempelajari GLB pada umumnya menggunakan seperangkat kinematika dengan
menggunakan ticker timer, beban dan
kertas untuk mendeteksi titik dan menentukan fenomena tersebut merupakan gerak
lurus beraturan (GLB) atau gerak lurus berubah beraturan. Selain itu, alat-alat
peraga cukup dibilang mahal sehingga keterbatasan alat peraga dapat diatasi
dengan membuat bahan percobaan dengan membawa peserta didik ke materi Fisika
yang lebih aplikatif serta menyediakan materi ajar yang lebih kompleks dan memberikan
kesempatan peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya menuju High Order Thinking Skill (HOTS).

Untuk meningkatkan aktivitas
dan memaksimalkan pencapaian hasil belajar fisika siswa, seharusnya guru
memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran.
Menurut Indrawati (2011:1.6), model pembelajaran berfungsi untuk membantu dan
membimbing guru untuk memilih komponen proses dalam pembelajaran teknik,
strategi, dan metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Salah satu alternatif solusi dalam proses pembelajaran yang diharapkan mampu
mengarahkan pada siswa yang aktif sehingga mampu mempengaruhi aktivitas siswa,
hasil belajar dan retensi hasil belajar siswa terhadap pembelajaran fisika
adalah model pembelajaran belajar penemuan (discovery learning).

Menurut Winataputra (2007:3.19), discovery
learning terdiri atas enam tahap yaitu: (1) stimulus (pemberian
perangsang/stimuli), (2) problem statement (mengidentifikasi masalah),
(3) data collection (pengumpulan data), (4) data processing (pengolahan
data), (5) verifikasi, dan (6) generalisasi. Belajar penemuan menekankan pada
berfikir tingkat tinggi, hal ini merupakan salah satu kemampuan yang
dikembangkan ketika mempelajari fisika.

x

Hi!
I'm Mary!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out