BAB I PENDAHULUAN 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih sangat rendah. Banyak masyarakat tidak memprioritaskan kesehatan gigi dan mulut mereka dan justru menganggap gangguan kesehatan gigi dan mulut sebagai hal yang sepele. Padahal, gigi dan mulut adalah port de entry utama kuman untuk masuk ke dalam tubuh yang berpotensi menyebabkan infeksi. Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2013 hanya 31% dari total penduduk Indonesia yang menerima perawatan gigi dan mulut. Maharani (2012) dalam artikel ilmiahnya menarik kesimpulan bahwa, pemanfaatan perawataan gigi dan mulut orang Indonesia lebih bergantung pada kemampuan masyarakat untuk membayar perawatannya dibandingkan kebutuhan masyarakat akan perawatannya. Salah satu penyakit gigi dan mulut yang banyak dijumpai di masyarakat adalah penyakit periodontal karena dapat menyerang semua umur dan jenis kelamin (Hartati dkk., 2011; Indirawati, 2010).
Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menyatakan bahwa prevalensi gingivitis di seluruh dunia adalah 75-90% dengan kategori sedang mencapai 75% (Widyawati 2010). Hanapi (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, angka kejadian Gingivitis pada anak usia 8-12 tahun , yang tergolong (gingival sehat, tidak terjadi pendarahan pada bagian interproksimal) sebesar 56,4%, selanjutnya yang tergolong (gingival memerah, tidak terjadi pendarahan pada bagian interproksimal) sebesar 34,2%. Yang tergolong (gingival pendarahan pada bagian interproksimal) sebesar 8,6%. Dan yang tergolong (pendarahan sepanjang margin gingival) sebesar 0,8%. Walaupun mayoritas anak masih memiliki gingival sehat, bukan berarti persoalan ini adalah sebuah angin lalu. Masih ada 43,6% anak yang mengidap gingivitis. Tingginya prevalensi gingivitis tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum mampu menjaga kebersihan gigi dan mulutnya (Abdulwahab I, Al-Kholani 2011).
Secara umum gingivitis adalah penyakit gusi bengkak. Penyakit gusi ini disebabkan oleh infeksi jaringan gusi yang mengelilingi dan mendukung gigi-gigi yang ada dalam rongga mulut kita. Hal ini adalah penyebab utama masyarakat Indonesia kehilangan gigi pada masa tuanya. Dalam tahap awal, penyakit ini disebut gingivitis dan apabila penyakit ini tidak dirawat dengan baik maka dapat menyebabkan penyakit periodontritis. Penyebab utama ketidakpeduliaan masyarakat terhadap penyakit gusi ini adalah tidak jelasnya gejala yang diderita masyarakat, masalah ekonomi dan pendidikan, menganggap remeh penyakit yang diderita serta merasa dapat mengobati diri sendiri tanpa menemui dokter yang ahli dalam bidangnya. Gingivitis umumnya terjadi karena plak dan kebersihan mulut. Ini adalah penyakit dini dan dapat kambuh kembali apabila tidak dirawat dengan tepat. Penyakit gusi ini ditandai dengan gusi yang memerah, bengkak dan mudah  berdarah apabila disentuh, terkena sikat gigi ataupun pada saat pembersihan gigi secara reguler oleh dokter gigi. Dalam penyakit gingivitis tidak akan ada jaringan atau tulang yang hilang. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk merawat gingivitis secepat mungkin sehingga kita dapat mencegah penyakit Periodontitis (penyakit gusi yang lebih serius).

BAB II
ISI
2.1 DEFINISI
Gusi berdarah atau gingivitis adalah suatu penyakit gigi dan mulut yang terjadi akibat peradangan pada gusi. Radang gusi disebabkan karena kebersihan mulut yang kurang diperhatikan. Penyebab yang paling sering adalah karena adanya plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi. Gigi kita dilapisi oleh lapisan transparan licin yang disebut pellicle. Pellicle yang dikolonisasi oleh bakteri disebut plak. Jika plak tetap melekat pada gigi selama lebih dari 72 jam, maka akan mengeras sehingga membentuk karang gigi yang melekat pada permukaan gigi. Karang gigi inilah yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan penyangga gigi, yang dimulai dari gingiva atau bagian gusi yang dapat kita lihat. Keadaan ini disebut gingivitis. Kondisi ini cukup banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ada peradangan, maka gusi menjadi mudah berdarah apabila terkena trauma mekanis, biasanya orang akan menyadari gusinya mengalami peradangan ketika berdarah saat menyikat gigi dan saat menggunakan tusuk gigi. Jadi, gusi berdarah adalah tanda awal adanya kerusakan gusi.

2.2 DIAGNOSIS BANDING
Anamnesis riwayat kesehatan pasien untuk memeriksa penyakit gusi atau kondisi yang dapat memicu perkembangan periodontritis. Dokter gigi juga akan bertanya tentang rutinitas yang dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut, riwayat obat yang pernah dikonsumsi , dan pola makan yang di terapkan misalnya mengkonsumsi makanan yang manis , ataupun banyak mengandung alkohol
Gigi dan gusi diperiksa secara detail, hal ini dilakukan supaya terdapat bukti yang jelas terhadap kerusakan gigi pada tahap awal. Dokter gigi juga akan memeriksa seberapa sensitif gigi yang dimiliki oleh pasien, apakah ada gigi yang rapuh, dan apakah posisi setiap gigi benar dan selaras. Kekuatan gigi dapat diuji dengan mendorong setiap gigi. Jika ada yang mengalami pergerakan, itu menunjukkan bahwa telah terjadi kerapuhan tulang gigi.

Salah satu cara yang dapat mendeteksi masalah dan kerusakan yang ada pada rongga mulut adalah dengan melakukan X-ray gigi pada pasien. X-ray dapat membantu untuk mendeteksi masalah kerusakan gigi yang memicu gigi berlubang. Sinar X-ray juga dapat melihat tingkat kesehatan gusi dan kualitas kekuatan tulang gigi.

2.3 PENYEBAB DAN GEJALA GINGIVITIS
2.3.1 PENYEBAB GINGIVITIS
Ternyata, penumpukan plak pada gigi merupakan penyebab utama terjadinya gingivitis. Plak ini berasal dari sisa makanan serta kumpulan bakteri yang menempel di gigi. Plak tersebut jika tidak dibersihkan akan menumpuk dan mengeras. Tumpukan inilah yang biasa kita kenal dengan sebutan karang gigi. Karang gigi mempunyai sifat yang keras dan lapisannya yang tebal sehingga kuman-kuman dengan leluasa berkembang biak di dalamnya. Kuman-kuman inilah yang menyebabkan iritasi pada gusi sehingga menjadi gingivitis. Selain penumpukan plak, ada penyebab lain yang bisa menjadi penyebab gingivitis, antara lain :
Merokok
Menggunakan gigi palsu yang tidak pas
Mengonsumsi obat-obatan terlarang
Malas menyikat gigi
Infeksi virus dan jamur
2.3.2 GEJALA GINGIVITIS
Untuk mengidentifikasi terjadinya gingivitis, kita harus mengetahui gejala-gejala yang muncul jika seseorang terkena penyakit gingivitis, antara lain :
Warna gusi yang berubah menjadi merah tua
Saat menyikat gigi, gusi berdarah
Mulut berbau
Gusi membengkak
PEMERIKSAAN
Ada pun cara untuk memeriksa Gingivitis sebagai berikut :
Warna. Gingiva yang normal itu berwarna merah muda.
Ukuran. Pada Gingiva normal, papillary gingival mengisi ruang pada interdental dan marginal gingiva membentuk knife edge di permukaan gigi pada kedalaman sulkus kurang dari 3 mm. pada gingivitis terjadi pertambahan ukuran gingival dan membentuk false pocket.
Konsistensi. Konsistensi pada gingival yang sehat kenyal dan merekat erat pada tulang di bawahnya dan pada gingivitis konsistensi halus tekanan menstimulasi pitting karena adanya edema.

Tekstur permukaan. Secara normal stippling di gingival cekat bila hilangnya stippling merupakan tanda bahwa ada penyakit periodontal. Stipping terjadi karena proyeksi lapisan papilar lamina propria dan mendorong epitel menjadi tonjolan –tonjolan bulat berselang seling pada epitel
PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
PENCEGAHAN GINGIVITIS
Pencegahan penyakit gingivitis merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dokter gigi, pasien dan personal pendukung. Pencegahan dilakukan dengan memelihara gigi-gigi dan mencegah serangan serta kambuhnya penyakit.

Umumnya penyakit gingivitis dapat dicegah oleh beberapa faktor :
Kontrol Plak
Kontrol plak merupakan cara yang paling efektif dalam mencegah pembentukan kalkulus dan merupakan dasar pokok pencegahan penyakit gingivitis , tanpa kontrol plak kesehatan mulut tidak dapat dipelihara. Pada metode kontrol plak tersebut dapat dibagi atas dua yaitu secara mekanis dan kimia. Secara mekanis merupakan cara yang paling mudah untuk dilakukan, meliputi penggunaan alat-alat fisik dengan memakai sikat gigi, alat pembersih proksimal seperti, tusuk gigi dan kumur-kumur dengan air sedangkan secara kimia adalah memakai bahan kumur – kumur.

Kontrol plak adalah pengurangan plak mikroba dan pencegahan akumulasi pada gigi dan permukaan gusi. Dengan melakukan kontrol plak, merupakan cara yang efektif dalam merawat dan mencegah gingivitis serta merupakan bagian yang sangat penting dalam urutan perawatan dan pencegahan penyakit dalam romngga mulut. Cara melakukan kontrol plak adalah menggosok gigi dengan sikat gigi secara manual.

Profilaksis mulut  
Profilaksasi mulut merupakan pembersihan gigi di klinik. Untuk memberikan manfaat pada pasien, profilaksis meliputi hal-hal berikut yaitu :
Memakai larutan pewarna (disclosing solution) untuk mendeteksi plak
Memeriksa tanda dan gejala impaksi makanan ( masuknya makanan secara paksa)
Memakai pasta gigi yang mengandung zat pencegah
Berkumur dengan obat kumur 3. Berhenti merokok=Merokok tidak hanya melemahkan sistem kekebalan tubuh tetapi juga memicu pertumbuhan bakteri mulut
PENGOBATAN GINGIVITIS
Skeling dan root planning
Skeling adalah proses untuk membuang plak pada permukaan gigi, sedangkan root planning adalah proses untuk menghasilkan permukaan akar gigi yang keras dan licin. Tujuan utama dari perawatan ini adalah mengembalikan kesehatan gusi dengan cara membuang semua elemen yang menyebabkan peradangan gusi.
Penyikatan gigi60% warga Amerika memiliki kebiasaan menyikat gigi yang ketat. Hal ini dapat menunjukkan pentingnya motivasi dan penyuluhan tentang kebersihan rongga mulut dan gigi.
2.6 PROGNOSIS
Prognosis memiliki artian sebuah prediksi dari lamanya perjalanan suatu penyakit, pengobatan suatu penyakit dan respon penyakit tersebut terhadap perawatan yang diberikan. Dalam kasus ini, diprediksikan jumlah penderita gingivitis di Indonesia akan meningkat. Mengapa demikian? Karena, masih banyak orang-orang di Indonesia yang menomor duakan masalah kesehatan rongga mulut. Namun, fenomena tersebut tidak akan berlangsung lama karena akan banyak muncul ilmuwan-ilmuwan dan dokter-dokter handal yang menemukan cara dan metode pengobatan terbaru yang bisa menyembuhkan penderita gingivitis khususnya di Indonesia. Gingivitis memiliki sifat reversible atau bisa kembali ke bentuk semula, dalam kasus ini memiliki artian sembuh atau hilang jika sudah dilakukan tindakan pengobatan. Tetapi, jika gingivitis tidak diberikan tindakan pengobatan, maka gingivitis tersebut sifatnya akan berubah menjadi irreversible. Irreversible memiliki arti tidak bisa kembali, dalam kasus ini artinya gingiva tidak bisa kembali dalam kondisi normal karena peradangan sudah menyebar sampai ke dalam tulang yang menopang gigi sehingga penyakit yang dihasilkan lebih parah yakni periodontitis.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Gingivitis merupakan suatu proses peradangan pada jaringan periodonsium yang terbatas pada gingival dan bersifat reversible. inflamasi gingival bisasanya dimulai pada papilla interdental dan menyebar ke sekitar leher gigi. Gingivitis secara epidemiologis diderita oleh hampir semua masyarakat dunia. Gingivitis biasanya dialami oleh hampir semua anak usia muda sedangkan semua orang dewasa sudah mengalami gingivitis. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat dan persentasi keparahan gingivitis adalah umur, kebersihan mulut, pekerjaan, pendidikan, letak geografis, populasi dan cara mereka merawat gigi mereka.

Selain plak yang menjadi penyebab utama peradangan gusi, tersangkutnya makanan, tambalan gigi yang tidak sempurna, gigi palsu yang tidak dalam kondisi baik, sikat gigi tidak bersih juga adalah faktor penunjang lainnya yang menyebabkan peradangan pada gusi. Selain faktor penunjang terdapat juga faktor fungsional yaitu seperti mengunyah sambil tidur, gigi hilang tidak diganti arau bentuk gigi yang tidak berarturan. selaim itu faktor resiko yang menyebabkan radang gusi adalah seprti umur,jenis kelamin, merokok, genetik, hormonal, obat obatan, stress psikologis juga dapat mempengaruhi.

Untuk pencegahan radang gusi sebenarnya sangatlah mudah yaitu dengan cara menjaga kebersihan mulut dengan teratur. Karena faktur utama penyebab peradangan pada gusi adalah plak, maka diperluikan juga prosedur mekanik seperti cara menyikat gigi yang dilakukan untuk menghilangklan plak serta mencegah pembentukkannya. pembersihan plak dapat dilakukan dengan cara menyikat gigi dengan benar, menggunakan benang gigi, dan melakukan tindakan pembersihan plak dan karang gigi. kebersihan gigi yang buruk, caries gigi serts kavitas pada gigi akan menyebabkan terjadinya superinfeksi, nekrosis, rasa nyeri dan pendarahan pada gusi.

SARAN
Sebaiknya masyarakat diberikan penjelasan lebih lanjut tentang kesehatan gigi agar jumlah masyarakat yang masih awam atau belum mengerti tentang gingivitis.

Memberikan penjelasan lebih detail lagi tentang komplikasi yang mungkin dari gingivitis tersebut sehingga mereka dapat menghinadari hal hal yang tidak mereka inginkanPKM-AI
GINGIVITIS
10687051769110
KELOMPOK PEDODONSIA
KELOMPOK 1
PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN GIGI DAN PROFESI DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

DAFTAR ISI
DAFTAR ISIiKATA PENGANTARii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang1
BAB II ISI
Definisi gingivitis3
Diagnosis 3
Penyebab dan gejala3
2.3.1 Penyebab gingivitis 4
2.3.2 Gejala gingivitis4
2.4 Pemeriksaan gingivitis 5
2.5 Pencegahan dan Pencegahan gingivitis6
2.5.1 Pencegahan gingivitis6
2.5.2 Pengobatan gingivitis6
2.6 Prognosis7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 8
3.2 Saran9
i
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan Penugasan Program Kerja Mahasiswa Artikel Ilmiah ini dengan penuh semangat dan pengorbanan.

Harapan kami semoga Penugasan Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah ini bisa menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman kita semua, dan kedepannya bisa dijadikan pembelajaran dalam menyusun suatu artikel ilmiah.

Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki, kami memohon maaf atas kesalahan yang masih terdapat di dalam artikel ilmiah ini. Karena kami yakin masih banyak kekurangan yang ada di dalam artikel ilmiah kami. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan artikel ilmiah yang kami susun.

Denpasar, 22 Agustus 2018
Penulis
ii