Abstrak antar manusia. Jika tidak ada alasan

Abstrak

Banyak
libertarian, terutama yang cenderung ke arah sekolah ekonomi Austria, menentang
pembenaran kegagalan pasar untuk intervensi pemerintah dengan menolak
legitimasi apapun terhadap konsep efisiensi neoklasik. Tetapi ditafsirkan
dengan benar, efisiensi neoklasik, dari pada memberikan justifikasi terbuka
untuk segala macam intervensi pemerintah, memberikan salah satu keberatan
paling kuat dan komprehensif terhadap pemaksaan pemerintah pada umumnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Kata kunci: Ekonomi Kesejahteraan, Efisiensi,
Barang Umum, Pemerintah

 

Pendahuluan

Libertarian atau Kebebasan merupakan sebuah gagasan
sederhana, namun juga merupakan patokan dari sebuah sistem rumit nilai dan
praktek: keadilan, kemakmuran, tanggung jawab, toleransi, kerja sama, dan
perdamaian. Banyak orang yang percaya bahwa kebebasan merupakan nilai politik
inti dari peradaban modern itu sendiri, nilai yang memberi substansi dan bentuk
pada semua nilai lain dalam kehidupan sosial. Merekalah disebut kaum
libertarian.

 

Libertarianisme adalah kepercayaan bahwa setiap orang
memiliki hak untuk menghidupi kehidupannya sebagaimana yang dipilihnya sejauh
dia menghormati hak-hak yang sama dari orang lain. Dalam pandangan libertarian,
kesepakatan suka rela merupakan standar emas hubungan antar manusia. Jika tidak
ada alasan yang baik untuk melarang sesuatu (alasan yang baik itu adalah bahwa
hal itu merusak hak orang lain), maka sesuatu itu harus diperbolehkan. Kekuatan
harus disediakan untuk melarang atau menghukum mereka yang juga menggunakan
kekuatan, seperti pembunuh, perampok, pemerkosa, penculik, dan penipu (yang
mempraktekkan semacam pencurian). Gagasan-gagasan libertarian telah menjadi
semakin berpengaruh. Filsuf Robert Nozick
lewat bukunya Anarchy, State dan
Utopia membantu menghidupkan kembali teori politik dan memusatkan perhatian
pada batas-batas yang layak dari kekuasaan negara.

Banyak libertarian atau kebebasan Pers
pendukung pasar bebas lainnya keberatan ekstrim tentang teori kesejahteraan
ekonomi neoklasik. Mereka terutama keberatan dengan gagasan turunan tentang
kegagalan pasar dan frekuensi yang digunakan untuk membenarkan intervensi
pemerintah. Ketika ekonom libertarian Bryan
Caplan baru-baru ini membela ekonomi kesejahteraan dan aspek lain dari
analisis neoklasik dari kritik terhadap sekolah Austria tersebut, dia
mengemukakan serangkaian jawaban berbeda dari orang-orang Austria seperti
Walter Block, Jörg Guido Hülsmann, dan Edward Stringham. Kritikus ini sama
sekali menolak efisiensi neoklasik sebagai standar koheren untuk membandingkan
hasil yang berbeda di dunia nyata. Memang, Block telah melangkah lebih jauh
untuk menegaskan bahwa “tidak ada hal-hal seperti itu” sebagai
kegagalan pasar.

 

Kerangka Teori

Teori Libertarian

suatu teori yang menyatakan bahwa pers merupakan sarana untuk
penyalurkan hati nurani rakyat dalam memberikan pengawasan dan penentuan
sikapnya pada tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sebenarnya Teori libeertarian berawal dari pemikiran
John Milton pada abad ke-17, yang menyatakan pendapatnya bahwa manusia tentunya
memilih nilai-nilai maupun ide-ide paling baik. Dengan begitu teori libertarian
dapat diartikan sebagai individu yang memiliki hak dalam menerbitkan apapun
yang disukainya atau diinginkannya. Dalam sistem pers libertarian, mengungkapkan
bahwa tiap kebijakan yang ditetapkan pemerintah dapat diterima sepenuhnya,
bukan juga dianjurkan. Karena sebab itulah, pemerintah tidak bisa memberikan
pembatasan pada keluar dan masuknya tiap informasi di tiap penjuru dunia.
Adaoun beberapa tugas teori pers libertarian
diantaranya yaitun memberikan pelayanan terhadap kehidupan publik, mencari
keuntungan untuk kelangsungan hidupnya, memberikan hiburan, memberikan
pelayanan kebutuhan ekonomi (iklan), dan kontrol sosial yaitu dengna menjaga
hak warga negara. Sedangkan ciri-ciri teori pers libertarian, yaitu dalam
mencari berita tidak adanya batas hukum, dalam penerbitan dan pendistribusian
informasi tidak diperlukannya izin, publikasi yang sifatnya bebas dan
penyensoran, dalam memublikasikan segala hal tidak ada kebijakan, media dan
wartawan mempunyai otonomi penuh dan profesional, kecaman terhadap partai
politik dan pejabat tidak dipidanakan, serta sepanjang itu menyangkut opini
keyakinan maka publikasi kesalahan dilindungi sama dengan publikasi kebenaran .

 

Pendekatan neoklasik memandang
ekonomi politik menghasilkan dua jenis agenda politik menurut Caporaso dan
Levine dalam Teori-Teori Ekonomi Politik; Yang pertama adalah agenda politik
yang berusaha untuk mengamankan atau mempertahankan sistem hak kepemilikan agar
transaksi bisa terjadi secara sukarela. Ini dilakukan dengan memberlakukan dan
menegakkan beberapa aturan tentang hak kepemilikan yang dirancang untuk
menunjang tujuan-tujuan pencapain kesejahteraan individu seperti yang
digariskan oleh pendekatan neoklasik. Yang kedua adalah agenda politik yang
terkait dengan pihak-pihak yang tidak ikut mengadakan kontrak tapi terpengaruh
oleh kontrak atau transaksi itu, atau agenda yang terkait dengan
situasi-situasi di mana transaksi-transaksi yang berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan yang bukan merupakan
batasan-batasan yang harus dipatuhi agar bisa menegakan hak kepemilikan.

 

Teori Kegagalan pasar merupakan suatu kondisi dimana pasar mengalami kegagalan dalam
menyediakan kebutuhan pasar secara effisien. Dalam hal ini, mekanisme pasar
yang tidak effisien akan menyebabkan kebutuhan pasar yang dihasilkan menjadi
terlalu banyak atau terlalu sedikit. Implikasi ekstrim dari fenomena ini
adalah kolapsnya pasar tersebut sehingga tidak dihasilkannya lagi komoditas
pasar terkait. Kegagalan pasar juga dapat diartikan sebagai kegagalan dari
suatu institusi, yang berkaitan dengan pasar atau pengaturannya dalam menyokong
aktivitas yang diperlukan juga menghentikan aktivitas yang tidak diperlukan
dalam kegiatan pasar. Kegagalan pasar terjadi ketika mekanisme harga gagal
memperhitungkan keseluruhan harga dan keuntungan yang berkaitan dengan
penyediaan maupun konsumsi dari suatu barang dan jasa. Hal ini kemudian
berdampak pada alokasi atau penggunaan yang tidak effisien

Ketidakefisienan dalam suatu pasar
berarti terdapat pengelolaan sumber daya atau distribusi yang tidak optimum
dari aktivitas pasar tersebut. Tentu, secara nyata, tidak terdapat pasar yang
efisien secara sempurna, ketidakefisienan dalam aplikasinya ditinjau
berdasarkan seberapa besar pengaruhnya terhadap suatu aktivitas pasar tersebut.
Dalam sudut pandang ekonomi, terdapat berbagai konsep tentang ketidakefisienan
yang dapat diterapkan diberbagai kasus, diantaranya : ketidakefisienan
Pareto, ketidakefisienan produksi, ketidakefisienan faktor “X”,
ketidakefisienan alokasi, ketidakefisienan dinamis dan ketidakefisienan sosial.

Kurva kemungkinan produksi yang
terkait efisiensi Pareto

Ketidakefisienan Pareto berkaitan
dengan suatu konsep efisiensi yang dicetuskan oleh Vilfredo Pareto seorang ahli ekonomi Italia.
Ketidakefisienan Pareto terjadi jika aktivitas ekonomi tidak berada di bawah
pada kurva
kemungkinan produksi. Atau dapat dikatakan, ketidakefisienan Pareto
terjadi saat suatu aktivitas produksi gagal menghasilkan jumlah output optimum
berupa barang dan jasa karena tidak mengeksploitasi sumber daya dengan
maksimum. Pendekatan kegagalan pasar menggunakan konsep efisiensi Pareto
mengabaikan kegagalan pasar yang diakibatkan faktor ekologi seperti : aktivitas
produksi yang menggunakan sumber daya tidak terbarukan secara berlebih,
perubahan ekosistem, atau berkaitan dengan
kemampuan biosfer untuk menyerap limbah dari
aktivitas produksi yang terjadi. 

 

Pembahasan

Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Jeffrey
Rogers Hummel terkait dengan Rekonstruksi Libertarian dari teori
kesejahteraan Neoklasik beberapa ekonom neo-Chicago pergi ke arah
yang berlawanan, dengan hasil ironisnya yang serupa. Mereka menyiratkan bahwa
jika Anda mempertimbangkan semua biaya peluang, termasuk biaya transaksi, maka
semua hasil aktual di dunia nyata efisien. Oleh karena itu mereka berpendapat
bahwa kita hidup sesuai dengan mereka di dunia yang terbaik. Oleh karena itu
mereka menerima pendekatan neoklasik yang biasa di pasar kegagalan. Dalam
formulasi murni-Pareto, pertanyaan berikut diberikan faktor wakaf dan
preferensi rakyat, dapatkah seorang mistik yang maha tahu dan baik hati
membayangkan setiap transaksi yang tidak terjadi di pasar meskipun akan membuat
setidaknya satu orang lebih baik tanpa membuat satu orang lebih buruk? Jika
demikian, maka terdapat kegagalan pasar. Perhatikan bahwa definisi ini
menghilangkan pertimbangan biaya transaksi: yaitu biaya peluang untuk menemukan
mitra dagang, menegosiasikan kesepakatan, dan memantau persyaratannya. Tanpa
biaya seperti itu, transaksi yang dimaksud pasti akan terjadi. Dengan demikian,
semua kegagalan pasar apakah diberi label barang publik, eksternalitas,
informasi asimetris, atau sesuatu yang lain akhirnya berasal dari biaya
transaksi positif.

 

Adapun
penelitian lain terkait dengan kegagalan pasar dilakukan oleh: Hall, Joshua C,
Uneven Information Causes Market Failure. Berangkat
dari teori Arkelov yang mengasumsikan bahwa dalam pasar mobil bekas ada mobil
yang merupakan barang ‘lemon’ dan adapula yang memiliki kualitas baik .
Istilah ini berasal dari demonstrasi Akerlof tentang konsep informasi asimetris
melalui contoh mobil bekas cacat, yang dikenal sebagai lemon di pasar. Apabila
pembeli dapat mengetahui mobil mana yang ‘lemon’ dan mana yang bukan, tentu
dapat menimbulkan dua pasar yang berbeda yakni, pasar untuk ‘lemon’ dan pasar
untuk mobil dengan high quality. Masalah lemon ini dapat diselidiki menggunakan dua jenis informasi yang
dibawa dalam pasar yakni informasi asimetris dan informasi simetris

 

Akerlof mengasumsikan
bahwa tuntutan mobil bekas tergantung pada harga mobil bekas, pasokan mobil
bekas dan kualitas mobil yang ada tergantung pada harga. Jadi apabila harga
turun, kualitas juga ikut menurun. Dari teori utilitas, dua jenis penjual baik
dengan informasi asimetris ataupun simetris masuk didalamnya. Dengan mengamati
pendapatan dari dua jenis penjual, tuntutan untuk mobil bekas akan menjadi
jumlah dari tuntutan kedua jenis penjual (simetris dan asimetris). Informasi
asimetris muncul ketika pihak yang bertransaksi tidak memiliki derajat yang
sama terhadap informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan. Misalnya, di
pasar untuk mobil bekas, pembeli umumnya tidak dapat memastikan nilai kendaraan
secara akurat dan karena itu pembeli hanya bersedia membayar harga rata-rata
untuk mobil tersebut. Pembeli kebanyakan tidak dapat mengetahui mobil mana yang
‘lemon’, namun sebaliknya penjual pasti mengetahui kualitas mobil yang
dijualnya

 

Artikel Phil Birnbaum ” Are traded players lemon”? Birbaum mengemukan bahwa pada
major-league baseball juga terdapat masalah asimetris informasi. Traded players are often damaged goods and thus the player trade market
might be a “lemon market”
Birnbaum tidak memperdebatkan intervensi pemerintah di
pasar untuk pemain bisbol. Dari artikel ini didapat alasan mengapa informasi
asimetris tidak menjadi masalah bagi pasar lain dimana intervensi pemerintah
sering terjadi.

 

Di sisi lain, efisiensi juga optimal
abstrak, membandingkan hasil aktual dengan yang superior tapi tidak ada. ada
jaminan bahwa kegagalan pasar setelah diidentifikasi dapat diperbaiki. Setiap
klaim bahwa pemerintah dapat mengurangi kegagalan pasar bergantung pada
kemampuan pemaksaan untuk mengurangi biaya transaksi. Mengapa efisiensi
neoklasik menempatkan biaya transaksi menjadi terpisah, kategori istimewa
dari semua biaya lainnya? Intinya dua
alasan. Yang pertama berkaitan
dengan sejarah pemikiran ekonomi. Ini adalah biaya yang biasanya diasumsikan
mendekati nol dalam model persaingan sempurna dan analisis keseimbangan umum
Walrasian. Tapi ada alasan kedua
yang lebih mendasar untuk menangani biaya transaksi secara khusus. Mereka
adalah satu-satunya biaya yang transaksi yang tidak disengaja berpotensi turun.
Semua biaya lainnya, seperti penggunaan alternatif dari faktor langka atau
utilitas keabadian waktu senggang, tidak dapat dikurangi dengan paksaan dalam
keadaan logis apa pun.

 

Kegagalan Pasar Dan Campur Tangan
Pemerintah

kegagalan pasar adalah
ketidakmampuan dari suatu perekonomian pasar untuk berfungsi secara efisien dan
menimbulkan keteguhan dan pertumbuhan ekonomi. Kegagalan ini mendorong
pemerintah untuk menjalankan beberapa kegiatan ekonomi. Di sisi lain, pada
konteks politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar
untuk situasi saat pasar dipaksa untuk tidak melayani “kepentingan publik”,
sebuah pernyataan subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau
sosial. Atau dapat dikatakan kegagalan pasar adalah dimana suatu pasar tidak
dapat menjalankan secara sempurna sesuai dengan fungsi awal sebagai pasar dan
situasi dimana semua kekuatan yang ada dalam pasar, permintaan dan penawaran,
berada dalam keadaan ketidakseimbangan

 

Kesimpulan

Pemerintah tidak
dapat memperbaiki kegagalan pasar dengan andal atau secara sistematis.
Sebenarnya, ini adalah sumber utama inefisiensi. Dengan demikian, Konsep
efisiensi neoklasik, daripada memberikan justifikasi terbuka untuk segala macam
intervensi pemerintah, malah memberikan salah satu keberatan paling kuat dan
komprehensif terhadap pemaksaan pemerintah pada umumnya. Penjual memiliki banyak informasi dibanding pembeli. Jika pembeli tidak dapat membedakan antara mobil berkualitas tinggi dan
rendah, biasanya penjual menawarkan harga yang setara dengan kualitas rata-rata
mobil bekas yang ada dipasaran sebagai mana penelitian yang dilakukan
oleh Hall, Joshua C. Sebagai penjual potensial
mobil berkualitas tinggi mereka menjaga reputasinya dimana mereka tidak akan
menjual mobil dengan harga yang tak sepadan dengan nilainya. Jadi, seiring waktu informasi asimetris ini dapat mengurangi jumlah
mobil berkualitas tinggi di pasar mobil bekas hingga terjadi market failures
yang disebabkan hanya “lemon” yang tersisa. pembeli menginvestasikan
waktu dan usaha untuk mengurangi ketidakpastian mengenai kualitas produk.
Dengan cara garansi, nama merek, dan reputasi membantu mengurangi
ketidakpastian pembeli mobil terhadap kualitas

Daftar Pustaka

 

Becker, Gary. 1983. “A Theory of Competition Among Pressure Groups for Political Influence.” Quarterly Journal of Economics, 98(3): 317–400.

 

Block,  Walter.  1999.
 “Austrian  Theorizing:
 Recalling  the  Foundations.” Quarterly Journal of Austrian Economics, (Winter):21-39

 

Block, Walter. 2007. “The Trouble with Democracy.”  LewRockwell.com, August 25. http://www.lewrockwell.com/block/block84.html.

 

Boettke, Peter J., Christopher J. Coyne, and Peter T. Leeson. 2007. “Saving Government
Failure Theory from
Itself: Recasting Political Economy from an Austrian Perspective.” Constitutional Political Economy, 18(June): 127–143.

 

Boulding,  Kenneth 
E. 1963. “The World War Industry as an Economic Problem.” In Disarmament and the Economy, ed. Kenneth E.
Boulding and Emile Benoit, 3–27. New York: Harper & Row.

 

Caplan,  Bryan.  1999.
 “The  Austrian
 Search  for
 Realistic  Foundations.” Southern Economic Journal, 65(April):
823–838.

 

Caplan, Bryan. 2001. “Probability, Common Sense, and Realism: A Reply  Hülsmann   and   Block.”   Quarterly 
 Journal   of
 Austrian 
 Economic 4(Summer): 69–86.

Coase. R. H. 1988. The Firm, the Market, and the Law.
Chicago: University of Chicago Press.

 

Cordato, Roy E. 1992. Welfare Economics
and Externalities in an Open Ended Universe: A Modern Austrian Perspective. Boston: Kluwer Academic.

 

Cowen, Tyler. 1993. “The Scope and Limits of Preference
 Sovereignty.” Economics
and Philosophy, 9: 253–69.

 

Demsetz,  Harold.  1968.
 “The  Cost
 of  Transacting.”
 Quarterly
 Journal  of Economics,
82(February): 33–53.

 

Frank, Robert H. 1985. Choosing
the Right Pond: Human Behavior and the Quest for Status. New York: Oxford University Press.

 

Frank, Robert H. 1999. Luxury Fever: Why Money Fails to Satisfy in an Era of Excess.
New York: Free Press.

 

Friedman, David D. 1988. “Does Altruism Produce Efficient Outcomes? Marshall
vs Kaldor.” Journal of Legal Studies, 17(January): 1–13

 

Steele, David Ramsay. 1992. From Marx to Mises: Post-Capitalist Society and the Challenge of Economic Calculation. LaSalle, Ill: Open Court.

 

Stigler, George. 1982. The Economist
as Preacher and Other Essays.  Chicago: University of Chicago Press.

 

Stringham,  Edward.
2001. “Kaldor-Hicks  Efficiency
and the Problem of Central Planning.”
 Quarterly Journal of Austrian Economics,
 4(Summer): 51–40.

 

Stringham, Edward, and Mark D. White. 2004. “Economic Analysis of
Tort Law: Austrian and Kantian Perspectives.” In Law and Economics: Alternative Economic Approaches to
Legal
and Regulatory Issues, ed. Margaret Oppenheimer  and  Nicholas  Mercuro,
 374–392.  New
 York:  M.E. Sharpe.

 

Thurow,  Lester  C.
 1971.  “The
 Income  Distribution
 as  a  Pure
 Public Good.” Quarterly Journal of Economics, 85(May): 327–36.

 

Thurow, Lester C. 1973. “The Income Distribution as a Pure Public Good: A Response.”
Quarterly Journal of Economics, 87(May): 316–19.

 

Abstrak

Banyak
libertarian, terutama yang cenderung ke arah sekolah ekonomi Austria, menentang
pembenaran kegagalan pasar untuk intervensi pemerintah dengan menolak
legitimasi apapun terhadap konsep efisiensi neoklasik. Tetapi ditafsirkan
dengan benar, efisiensi neoklasik, dari pada memberikan justifikasi terbuka
untuk segala macam intervensi pemerintah, memberikan salah satu keberatan
paling kuat dan komprehensif terhadap pemaksaan pemerintah pada umumnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Kata kunci: Ekonomi Kesejahteraan, Efisiensi,
Barang Umum, Pemerintah

 

Pendahuluan

Libertarian atau Kebebasan merupakan sebuah gagasan
sederhana, namun juga merupakan patokan dari sebuah sistem rumit nilai dan
praktek: keadilan, kemakmuran, tanggung jawab, toleransi, kerja sama, dan
perdamaian. Banyak orang yang percaya bahwa kebebasan merupakan nilai politik
inti dari peradaban modern itu sendiri, nilai yang memberi substansi dan bentuk
pada semua nilai lain dalam kehidupan sosial. Merekalah disebut kaum
libertarian.

 

Libertarianisme adalah kepercayaan bahwa setiap orang
memiliki hak untuk menghidupi kehidupannya sebagaimana yang dipilihnya sejauh
dia menghormati hak-hak yang sama dari orang lain. Dalam pandangan libertarian,
kesepakatan suka rela merupakan standar emas hubungan antar manusia. Jika tidak
ada alasan yang baik untuk melarang sesuatu (alasan yang baik itu adalah bahwa
hal itu merusak hak orang lain), maka sesuatu itu harus diperbolehkan. Kekuatan
harus disediakan untuk melarang atau menghukum mereka yang juga menggunakan
kekuatan, seperti pembunuh, perampok, pemerkosa, penculik, dan penipu (yang
mempraktekkan semacam pencurian). Gagasan-gagasan libertarian telah menjadi
semakin berpengaruh. Filsuf Robert Nozick
lewat bukunya Anarchy, State dan
Utopia membantu menghidupkan kembali teori politik dan memusatkan perhatian
pada batas-batas yang layak dari kekuasaan negara.

Banyak libertarian atau kebebasan Pers
pendukung pasar bebas lainnya keberatan ekstrim tentang teori kesejahteraan
ekonomi neoklasik. Mereka terutama keberatan dengan gagasan turunan tentang
kegagalan pasar dan frekuensi yang digunakan untuk membenarkan intervensi
pemerintah. Ketika ekonom libertarian Bryan
Caplan baru-baru ini membela ekonomi kesejahteraan dan aspek lain dari
analisis neoklasik dari kritik terhadap sekolah Austria tersebut, dia
mengemukakan serangkaian jawaban berbeda dari orang-orang Austria seperti
Walter Block, Jörg Guido Hülsmann, dan Edward Stringham. Kritikus ini sama
sekali menolak efisiensi neoklasik sebagai standar koheren untuk membandingkan
hasil yang berbeda di dunia nyata. Memang, Block telah melangkah lebih jauh
untuk menegaskan bahwa “tidak ada hal-hal seperti itu” sebagai
kegagalan pasar.

 

Kerangka Teori

Teori Libertarian

suatu teori yang menyatakan bahwa pers merupakan sarana untuk
penyalurkan hati nurani rakyat dalam memberikan pengawasan dan penentuan
sikapnya pada tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sebenarnya Teori libeertarian berawal dari pemikiran
John Milton pada abad ke-17, yang menyatakan pendapatnya bahwa manusia tentunya
memilih nilai-nilai maupun ide-ide paling baik. Dengan begitu teori libertarian
dapat diartikan sebagai individu yang memiliki hak dalam menerbitkan apapun
yang disukainya atau diinginkannya. Dalam sistem pers libertarian, mengungkapkan
bahwa tiap kebijakan yang ditetapkan pemerintah dapat diterima sepenuhnya,
bukan juga dianjurkan. Karena sebab itulah, pemerintah tidak bisa memberikan
pembatasan pada keluar dan masuknya tiap informasi di tiap penjuru dunia.
Adaoun beberapa tugas teori pers libertarian
diantaranya yaitun memberikan pelayanan terhadap kehidupan publik, mencari
keuntungan untuk kelangsungan hidupnya, memberikan hiburan, memberikan
pelayanan kebutuhan ekonomi (iklan), dan kontrol sosial yaitu dengna menjaga
hak warga negara. Sedangkan ciri-ciri teori pers libertarian, yaitu dalam
mencari berita tidak adanya batas hukum, dalam penerbitan dan pendistribusian
informasi tidak diperlukannya izin, publikasi yang sifatnya bebas dan
penyensoran, dalam memublikasikan segala hal tidak ada kebijakan, media dan
wartawan mempunyai otonomi penuh dan profesional, kecaman terhadap partai
politik dan pejabat tidak dipidanakan, serta sepanjang itu menyangkut opini
keyakinan maka publikasi kesalahan dilindungi sama dengan publikasi kebenaran .

 

Pendekatan neoklasik memandang
ekonomi politik menghasilkan dua jenis agenda politik menurut Caporaso dan
Levine dalam Teori-Teori Ekonomi Politik; Yang pertama adalah agenda politik
yang berusaha untuk mengamankan atau mempertahankan sistem hak kepemilikan agar
transaksi bisa terjadi secara sukarela. Ini dilakukan dengan memberlakukan dan
menegakkan beberapa aturan tentang hak kepemilikan yang dirancang untuk
menunjang tujuan-tujuan pencapain kesejahteraan individu seperti yang
digariskan oleh pendekatan neoklasik. Yang kedua adalah agenda politik yang
terkait dengan pihak-pihak yang tidak ikut mengadakan kontrak tapi terpengaruh
oleh kontrak atau transaksi itu, atau agenda yang terkait dengan
situasi-situasi di mana transaksi-transaksi yang berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan yang bukan merupakan
batasan-batasan yang harus dipatuhi agar bisa menegakan hak kepemilikan.

 

Teori Kegagalan pasar merupakan suatu kondisi dimana pasar mengalami kegagalan dalam
menyediakan kebutuhan pasar secara effisien. Dalam hal ini, mekanisme pasar
yang tidak effisien akan menyebabkan kebutuhan pasar yang dihasilkan menjadi
terlalu banyak atau terlalu sedikit. Implikasi ekstrim dari fenomena ini
adalah kolapsnya pasar tersebut sehingga tidak dihasilkannya lagi komoditas
pasar terkait. Kegagalan pasar juga dapat diartikan sebagai kegagalan dari
suatu institusi, yang berkaitan dengan pasar atau pengaturannya dalam menyokong
aktivitas yang diperlukan juga menghentikan aktivitas yang tidak diperlukan
dalam kegiatan pasar. Kegagalan pasar terjadi ketika mekanisme harga gagal
memperhitungkan keseluruhan harga dan keuntungan yang berkaitan dengan
penyediaan maupun konsumsi dari suatu barang dan jasa. Hal ini kemudian
berdampak pada alokasi atau penggunaan yang tidak effisien

Ketidakefisienan dalam suatu pasar
berarti terdapat pengelolaan sumber daya atau distribusi yang tidak optimum
dari aktivitas pasar tersebut. Tentu, secara nyata, tidak terdapat pasar yang
efisien secara sempurna, ketidakefisienan dalam aplikasinya ditinjau
berdasarkan seberapa besar pengaruhnya terhadap suatu aktivitas pasar tersebut.
Dalam sudut pandang ekonomi, terdapat berbagai konsep tentang ketidakefisienan
yang dapat diterapkan diberbagai kasus, diantaranya : ketidakefisienan
Pareto, ketidakefisienan produksi, ketidakefisienan faktor “X”,
ketidakefisienan alokasi, ketidakefisienan dinamis dan ketidakefisienan sosial.

Kurva kemungkinan produksi yang
terkait efisiensi Pareto

Ketidakefisienan Pareto berkaitan
dengan suatu konsep efisiensi yang dicetuskan oleh Vilfredo Pareto seorang ahli ekonomi Italia.
Ketidakefisienan Pareto terjadi jika aktivitas ekonomi tidak berada di bawah
pada kurva
kemungkinan produksi. Atau dapat dikatakan, ketidakefisienan Pareto
terjadi saat suatu aktivitas produksi gagal menghasilkan jumlah output optimum
berupa barang dan jasa karena tidak mengeksploitasi sumber daya dengan
maksimum. Pendekatan kegagalan pasar menggunakan konsep efisiensi Pareto
mengabaikan kegagalan pasar yang diakibatkan faktor ekologi seperti : aktivitas
produksi yang menggunakan sumber daya tidak terbarukan secara berlebih,
perubahan ekosistem, atau berkaitan dengan
kemampuan biosfer untuk menyerap limbah dari
aktivitas produksi yang terjadi. 

 

Pembahasan

Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Jeffrey
Rogers Hummel terkait dengan Rekonstruksi Libertarian dari teori
kesejahteraan Neoklasik beberapa ekonom neo-Chicago pergi ke arah
yang berlawanan, dengan hasil ironisnya yang serupa. Mereka menyiratkan bahwa
jika Anda mempertimbangkan semua biaya peluang, termasuk biaya transaksi, maka
semua hasil aktual di dunia nyata efisien. Oleh karena itu mereka berpendapat
bahwa kita hidup sesuai dengan mereka di dunia yang terbaik. Oleh karena itu
mereka menerima pendekatan neoklasik yang biasa di pasar kegagalan. Dalam
formulasi murni-Pareto, pertanyaan berikut diberikan faktor wakaf dan
preferensi rakyat, dapatkah seorang mistik yang maha tahu dan baik hati
membayangkan setiap transaksi yang tidak terjadi di pasar meskipun akan membuat
setidaknya satu orang lebih baik tanpa membuat satu orang lebih buruk? Jika
demikian, maka terdapat kegagalan pasar. Perhatikan bahwa definisi ini
menghilangkan pertimbangan biaya transaksi: yaitu biaya peluang untuk menemukan
mitra dagang, menegosiasikan kesepakatan, dan memantau persyaratannya. Tanpa
biaya seperti itu, transaksi yang dimaksud pasti akan terjadi. Dengan demikian,
semua kegagalan pasar apakah diberi label barang publik, eksternalitas,
informasi asimetris, atau sesuatu yang lain akhirnya berasal dari biaya
transaksi positif.

 

Adapun
penelitian lain terkait dengan kegagalan pasar dilakukan oleh: Hall, Joshua C,
Uneven Information Causes Market Failure. Berangkat
dari teori Arkelov yang mengasumsikan bahwa dalam pasar mobil bekas ada mobil
yang merupakan barang ‘lemon’ dan adapula yang memiliki kualitas baik .
Istilah ini berasal dari demonstrasi Akerlof tentang konsep informasi asimetris
melalui contoh mobil bekas cacat, yang dikenal sebagai lemon di pasar. Apabila
pembeli dapat mengetahui mobil mana yang ‘lemon’ dan mana yang bukan, tentu
dapat menimbulkan dua pasar yang berbeda yakni, pasar untuk ‘lemon’ dan pasar
untuk mobil dengan high quality. Masalah lemon ini dapat diselidiki menggunakan dua jenis informasi yang
dibawa dalam pasar yakni informasi asimetris dan informasi simetris

 

Akerlof mengasumsikan
bahwa tuntutan mobil bekas tergantung pada harga mobil bekas, pasokan mobil
bekas dan kualitas mobil yang ada tergantung pada harga. Jadi apabila harga
turun, kualitas juga ikut menurun. Dari teori utilitas, dua jenis penjual baik
dengan informasi asimetris ataupun simetris masuk didalamnya. Dengan mengamati
pendapatan dari dua jenis penjual, tuntutan untuk mobil bekas akan menjadi
jumlah dari tuntutan kedua jenis penjual (simetris dan asimetris). Informasi
asimetris muncul ketika pihak yang bertransaksi tidak memiliki derajat yang
sama terhadap informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan. Misalnya, di
pasar untuk mobil bekas, pembeli umumnya tidak dapat memastikan nilai kendaraan
secara akurat dan karena itu pembeli hanya bersedia membayar harga rata-rata
untuk mobil tersebut. Pembeli kebanyakan tidak dapat mengetahui mobil mana yang
‘lemon’, namun sebaliknya penjual pasti mengetahui kualitas mobil yang
dijualnya

 

Artikel Phil Birnbaum ” Are traded players lemon”? Birbaum mengemukan bahwa pada
major-league baseball juga terdapat masalah asimetris informasi. Traded players are often damaged goods and thus the player trade market
might be a “lemon market”
Birnbaum tidak memperdebatkan intervensi pemerintah di
pasar untuk pemain bisbol. Dari artikel ini didapat alasan mengapa informasi
asimetris tidak menjadi masalah bagi pasar lain dimana intervensi pemerintah
sering terjadi.

 

Di sisi lain, efisiensi juga optimal
abstrak, membandingkan hasil aktual dengan yang superior tapi tidak ada. ada
jaminan bahwa kegagalan pasar setelah diidentifikasi dapat diperbaiki. Setiap
klaim bahwa pemerintah dapat mengurangi kegagalan pasar bergantung pada
kemampuan pemaksaan untuk mengurangi biaya transaksi. Mengapa efisiensi
neoklasik menempatkan biaya transaksi menjadi terpisah, kategori istimewa
dari semua biaya lainnya? Intinya dua
alasan. Yang pertama berkaitan
dengan sejarah pemikiran ekonomi. Ini adalah biaya yang biasanya diasumsikan
mendekati nol dalam model persaingan sempurna dan analisis keseimbangan umum
Walrasian. Tapi ada alasan kedua
yang lebih mendasar untuk menangani biaya transaksi secara khusus. Mereka
adalah satu-satunya biaya yang transaksi yang tidak disengaja berpotensi turun.
Semua biaya lainnya, seperti penggunaan alternatif dari faktor langka atau
utilitas keabadian waktu senggang, tidak dapat dikurangi dengan paksaan dalam
keadaan logis apa pun.

 

Kegagalan Pasar Dan Campur Tangan
Pemerintah

kegagalan pasar adalah
ketidakmampuan dari suatu perekonomian pasar untuk berfungsi secara efisien dan
menimbulkan keteguhan dan pertumbuhan ekonomi. Kegagalan ini mendorong
pemerintah untuk menjalankan beberapa kegiatan ekonomi. Di sisi lain, pada
konteks politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar
untuk situasi saat pasar dipaksa untuk tidak melayani “kepentingan publik”,
sebuah pernyataan subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau
sosial. Atau dapat dikatakan kegagalan pasar adalah dimana suatu pasar tidak
dapat menjalankan secara sempurna sesuai dengan fungsi awal sebagai pasar dan
situasi dimana semua kekuatan yang ada dalam pasar, permintaan dan penawaran,
berada dalam keadaan ketidakseimbangan

 

Kesimpulan

Pemerintah tidak
dapat memperbaiki kegagalan pasar dengan andal atau secara sistematis.
Sebenarnya, ini adalah sumber utama inefisiensi. Dengan demikian, Konsep
efisiensi neoklasik, daripada memberikan justifikasi terbuka untuk segala macam
intervensi pemerintah, malah memberikan salah satu keberatan paling kuat dan
komprehensif terhadap pemaksaan pemerintah pada umumnya. Penjual memiliki banyak informasi dibanding pembeli. Jika pembeli tidak dapat membedakan antara mobil berkualitas tinggi dan
rendah, biasanya penjual menawarkan harga yang setara dengan kualitas rata-rata
mobil bekas yang ada dipasaran sebagai mana penelitian yang dilakukan
oleh Hall, Joshua C. Sebagai penjual potensial
mobil berkualitas tinggi mereka menjaga reputasinya dimana mereka tidak akan
menjual mobil dengan harga yang tak sepadan dengan nilainya. Jadi, seiring waktu informasi asimetris ini dapat mengurangi jumlah
mobil berkualitas tinggi di pasar mobil bekas hingga terjadi market failures
yang disebabkan hanya “lemon” yang tersisa. pembeli menginvestasikan
waktu dan usaha untuk mengurangi ketidakpastian mengenai kualitas produk.
Dengan cara garansi, nama merek, dan reputasi membantu mengurangi
ketidakpastian pembeli mobil terhadap kualitas

Daftar Pustaka

 

Becker, Gary. 1983. “A Theory of Competition Among Pressure Groups for Political Influence.” Quarterly Journal of Economics, 98(3): 317–400.

 

Block,  Walter.  1999.
 “Austrian  Theorizing:
 Recalling  the  Foundations.” Quarterly Journal of Austrian Economics, (Winter):21-39

 

Block, Walter. 2007. “The Trouble with Democracy.”  LewRockwell.com, August 25. http://www.lewrockwell.com/block/block84.html.

 

Boettke, Peter J., Christopher J. Coyne, and Peter T. Leeson. 2007. “Saving Government
Failure Theory from
Itself: Recasting Political Economy from an Austrian Perspective.” Constitutional Political Economy, 18(June): 127–143.

 

Boulding,  Kenneth 
E. 1963. “The World War Industry as an Economic Problem.” In Disarmament and the Economy, ed. Kenneth E.
Boulding and Emile Benoit, 3–27. New York: Harper & Row.

 

Caplan,  Bryan.  1999.
 “The  Austrian
 Search  for
 Realistic  Foundations.” Southern Economic Journal, 65(April):
823–838.

 

Caplan, Bryan. 2001. “Probability, Common Sense, and Realism: A Reply  Hülsmann   and   Block.”   Quarterly 
 Journal   of
 Austrian 
 Economic 4(Summer): 69–86.

Coase. R. H. 1988. The Firm, the Market, and the Law.
Chicago: University of Chicago Press.

 

Cordato, Roy E. 1992. Welfare Economics
and Externalities in an Open Ended Universe: A Modern Austrian Perspective. Boston: Kluwer Academic.

 

Cowen, Tyler. 1993. “The Scope and Limits of Preference
 Sovereignty.” Economics
and Philosophy, 9: 253–69.

 

Demsetz,  Harold.  1968.
 “The  Cost
 of  Transacting.”
 Quarterly
 Journal  of Economics,
82(February): 33–53.

 

Frank, Robert H. 1985. Choosing
the Right Pond: Human Behavior and the Quest for Status. New York: Oxford University Press.

 

Frank, Robert H. 1999. Luxury Fever: Why Money Fails to Satisfy in an Era of Excess.
New York: Free Press.

 

Friedman, David D. 1988. “Does Altruism Produce Efficient Outcomes? Marshall
vs Kaldor.” Journal of Legal Studies, 17(January): 1–13

 

Steele, David Ramsay. 1992. From Marx to Mises: Post-Capitalist Society and the Challenge of Economic Calculation. LaSalle, Ill: Open Court.

 

Stigler, George. 1982. The Economist
as Preacher and Other Essays.  Chicago: University of Chicago Press.

 

Stringham,  Edward.
2001. “Kaldor-Hicks  Efficiency
and the Problem of Central Planning.”
 Quarterly Journal of Austrian Economics,
 4(Summer): 51–40.

 

Stringham, Edward, and Mark D. White. 2004. “Economic Analysis of
Tort Law: Austrian and Kantian Perspectives.” In Law and Economics: Alternative Economic Approaches to
Legal
and Regulatory Issues, ed. Margaret Oppenheimer  and  Nicholas  Mercuro,
 374–392.  New
 York:  M.E. Sharpe.

 

Thurow,  Lester  C.
 1971.  “The
 Income  Distribution
 as  a  Pure
 Public Good.” Quarterly Journal of Economics, 85(May): 327–36.

 

Thurow, Lester C. 1973. “The Income Distribution as a Pure Public Good: A Response.”
Quarterly Journal of Economics, 87(May): 316–19.

 

x

Hi!
I'm Mary!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out